Friday, 8 May 2015

Apa Itu "Sibuk"?

Bismillah

Dalam beberapa kali kesempatan, saya sering ditanya "lagi sibuk apa?" atau "sedang sibuk ya?" atau hal senada. Pertanyaan semodel itu selalu saya jawab dengan "saya tidak pernah sibuk".

Makna "sibuk" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, salah satunya adalah
1. banyak yang dikerjakan
Sibuk itu hanyalah kata sifat atau adjectiva, yang, seperti kata sifat pada umumnya, selalu bersifat relatif. Jadi, sibuk itu relatif. Menurut seseorang sibuk, belum tentu menurut orang yang lain demikian pula. Mengapa saya tidak pernah sibuk? Karena sebenarnya sibuk itu tidak ada. Sibuk hanya ada di pikiran kita. Sibuk hanyalah excuse orang supaya tidak diganggu. Sibuk terkadang hanyalah predikat yang didamba orang-orang sok, sehingga terlihat sibuk, jadilah sok sibuk. Sibuk juga terkait dengan cara kita mengatur apa yang kita kerjakan, apa yang kita anggap penting atau tidak penting. Orang yang selalu sibuk, sebetulnya adalah orang-orang yang task management-nya payah, sehingga dengan keterbatasan waktu, dia tidak bisa mengatur jadwal hidupnya.

"Papah sedang sibuk, kamu main sendiri saja".
"Mamah sibuk bekerja, cari uang, untuk keperluan kamu juga, sehingga Sabtu dan Minggu kita tidak jadi berenang".
"Aku lagi sibuk, jadi nggak sempet angkat telepon kamu".
"Saya sibuk, tolong jangan ganggu dulu dengan sales call".
"Sibuk mengerjakan skripsi, jadinya tidak bisa tilawah sehari sejuz".

Dari penggalan kalimat di atas, sibuk hanyalah jawaban mengawang-awang, karena tidak ada alasan lain dari kenyataan sesungguhnya : "Saya itu sulit mengatur hidup saya sendiri, tidak bisa membuat prioritas, sehingga banyak hal terlihat berantakan"

Coba lihat Steve Jobs, apakah ia sibuk? Menurut saya tidak. Ia pandai mengatur waktu. Ia pandai memilah mana yang benar-benar penting, defining what's essentials.

Coba tanyakan ke diri Anda, saat Anda bilang Anda sibuk, apakah Anda benar-benar sibuk?

Original post : Apa Itu "Sibuk"?

Saturday, 2 May 2015

Manggarai

Bismillah

Jika Tanah Abang adalah cerminan kekusutan Jakarta, maka Manggarai adalah simbol BUMN yang mis-management. Saat ini saya berada di stasiun yang punya setidaknya 11 lajur, menjadi korban amburadulnya jadwal kereta. Apakah orang-orang PT KAI tidak ada yang pernah main Railway Simulator 2015??

Ini belum termasuk kelakuan penumpang kelas ekonomi yang serba ajaib. Namanya juga kasta sudra, kalau punya duit mesti sudah pindah ke kelas bisnis atau esekutip. Nah, karena faktor finansial adalah hal yang jadi alasan utama, maka golongan ini akan menomor-enambelas-kan sisi kenyamanan, keamanan, apalagi kemewahan. Cukuplah pantat keram karena kursi pun keras sepanjang perjalanan, yang penting bisa sampai ke tanah kelahiran. Kelakuan ajaib lain, kereta barang "dititipin" kantong sampah. Boleh jadi kapan-kapan ada manusia buang taik di atas kereta dari Cirebon, dan keringnya baru di Tanjung Priok.

Lama-lama Indon jadi kayak Indihe, kalau boker di rel kereta api.

Gambar bersumber dari sini
Akhirnya naik taksi sama penumpang Tangerang lain, dari Slipi. Alhamdulillah bisa berbagi ongkos. "Terima kasih ya, Kawan!" begitu kata si Bapak waktu turun, tanpa saya tahu nama beliau siapa. Benar-benar macam film Ronin. No names, no questions, no answers. That's the business we're in.

Pesan moral:

0. Perbanyak istighfar sepanjang perjalanan.
1. Whatever happens, never ever trust your government.
2. Selalu sedia cash yang banyak, atau visa/mastercard. Perhatikan benar-benar top 25 important things.
3. Create a new relationship along the way.


Original post : Manggarai

Monday, 27 April 2015

Jogja

Bismillah

Dua hari kemarin saya ke Yogyakarta. Ceritanya Sigit nikah. Sekalian kondangan sekalian main sama Gamal, Adya, Vita, Husein, dan sempat mampir ke ruma Dita dan Ekgik di Bantul.


Seperi biasa, kondangan pake sepatu futsal. Ini membuktikan sebenarnya kita hanya butuh satu pasang sepatu untuk hampir segala situasi: kerja, maen, olahraga, termasuk ke resepsi nikah. Hidup minimalis.

Terus terang Jogja bisa jadi altenatif kota yang hendak dijadikan tempat hidup. Tenang, udara bersih, budaya, pendidikan, orang-orangnya, living cost, tata kota, indeks kebahagiaan, dan paling tidak di Jogja tidak mati lampu 4 jam sehari seperti Kubu Raya. Mungkin tinggal masalah waktu sahaja untuk hijrah.

Jogja akan punya lapangan terbang baru di Kulonprogo, dan akses ke hampir semua kota besar di Jawa bisa dicapai dengan berbagai macam moda transportasi. Dari sekian banyak hal baik tentang Jogja, yang agak mengkhawatirkan menurut saya adalah kondisi jalan dan kebiasaan / karakter penduduknya. Jogja sudah mulai macet di beberapa titik saat akhir pekan. Jogja juga tidak seramah ketika saya kuliah tahun 2004 silam. Jogja sudah berubah. Bisa jadi juga karena sudah terlalu plural dan banyak pendatang.

Di kereta saya sempat bersebelahan dengan (meminjam istilah Tyler Durden dalam film Fight Club) one of the most interesting single-serving friend atau teman satu porsi yang menarik. Lulusan ekonomi UGM tahun 2004 dan menghabiskan 8 tahun bekerja di salah satu perusahaan otomotif ternama. Orang cerdas. Mengapa beliau keluar?

Ini salah satu quotenya

"Ketika ada orang tidak butuh mobil, kita pengaruhi untuk beli mobil. Itu belum jahat. Tahu tidak apa yang lebih jahat? Ada orang, secara finansial jelas-jelas tidak mampu beli mobil, tapi kita pengaruhi untuk beli mobil, dengan cara hutang dan pakai bunga pula. Di situ batin saya bergejolak"




Original post : Jogja

Thursday, 23 April 2015

Ransel 30 Liter dan 25 Barang

Bismillah

Raam Dev, lahir dan besar di Boston (namanya mirip Indian tapi bukan orang India), tidak pernah punya pendidikan formal hingga saat ini, developer untuk WordPress theme minimalist "Independent Publisher", dan menulis 25 Things. Darinya saya punya inisiatif untuk menulis hal serupa. Raam bahkan membawa gaya hidup minimalis beberapa tingkat lebih tinggi dibanding Leo Babauta, yang anaknya (setidaknya hingga tulisan ini dibuat) ada 6. Leo memiliki 50 Things. Dua kali lipat lebih banyak.

Mengapa muncul ide tentang hidup minimalis? Karena kehidupan di bumi ini timpang, tidak seimbang. Di satu sisi dunia orang bisa buang-buang makanan dan air, dan sisi dunia yang lain orang mati karena kelaparan. Kita hidup di dunia yang berkelimpahan dengan kepemilikan. Kita hidup dengan terlalu banyak barang, yang mirisnya sebagian besar tidak kita butuhkan. Dengan gaya hidup minimalis, kita bisa menjawab pertanyaan : what is the most important things in your life?

Tak adakah rasa bersalah ketika mengambil barang tertentu di rak supermarket, memindahkannya ke dalam keranjang belanja, membayarnya di kasir dan membawanya pulang ke rumah kita yang sudah sempit sedari awal?

Apakah kita tidak bisa hidup tanpa mesin pembuat kopi, yang hanya kita pakai sekali sebulan? Apakah kita benar-benar butuh mobil? Motor? Dua buah pula? Apakah kita butuh selusin pasang sepatu? Bisakah kita hidup tanpa televisi? Tidak adakah dari sekian banyak kartu dalam dompet kita yang bisa kita buang saja ke tempat sampah?

Akankah kita terus menumpuk diri dengan posesivitas?

Nah, 25 Things Challenge adalah tantangan untuk benar-benar memilih barang terpenting dalam hidup. Jumlahnya harus 25 atau di bawah itu, dan harus cukup dalam sebuah tas ransel 30 liter, pertanda kita siap hijrah kapan saja.

Aturannya :
0. Apapun yang dibawa ke dalam ransel, harus dihitung. Itu termasuk ranselnya.
1. Apapun yang bisa muat dalam tangkupan tangan, bisa dihitung sebagai satu. Misal, 4 buah kunci.
2. Apapun yang terkait satu sama lain, bisa dihitung sebagai satu. Contoh, handphone dan kabel chargernya.

Ayo mulai.

  1. Ransel Eiger Lavos 14".
  2. MacBook Pro 13"
  3. iPhone 4S
  4. Travel documents (paspor, ID, SIM)
  5. Credit cards, debit cards, cash.
  6. Powerbank
  7. Topi
  8. Jaket
  9. Notebook + pen.
  10. Adidas Nitrocharge 3.0 (shoes)
  11. Hygiene kit (sikat gigi, sabun, pasta gigi, deodorant, razor+blade)
  12. Sarung
  13. Underwears
  14. Belt
  15. Jeans
  16. Jeans
  17. Dri-fit t-shirts
  18. Dri-fit t-shirts
  19. Dri-fit shorts
  20. Botol minum
  21. Socks 2x
  22. Sandal
  23. Handuk
  24. 8" Chef Knife

Tentu daftar di atas bisa berubah-ubah. Misal kalau di negara dengan iklim yang ekstrim (salju) maka daftarnya bisa jadi akan bertambah panjang. Waktu saya bertanya dengan salah seorang teman, dia bahkan harus menyertakan "token BCA" sebagai barang yang harus dibawa. Dari sekian banyak macam barang itu, mungkin ada 2 atau lebih barang yang bisa dikombinasikan semisal modem dan kamera digital diganti dengan smartphone mutakhir. Atau dua buah jeans bisa diganti dengan 1 buah trousers mahal yang odor resistant, demikian pula dengan socks/jacket/underwear/etc. Maksudnya biar nggak banyak bawa baju dan mesti nyuci.

Kalau kata Ryan dalam Up In The Air, komponen paling berat memang relationships







Original post : Ransel 30 Liter dan 25 Barang

Tuesday, 21 April 2015

Cafe Reviews : BlackBone Cafe, Yogyakarta ID

Yogyakarta, ID – BlackBone Cafe Date : 14 April 2015Cafe Ambassador : Sang IndraCafe Name : Black Bone CafeLocation: Jl. Kaliurang Km 5.2. Karangwuni.Yogyakarta. (East Sego Sepiring Restaurant in Jakal Jogjakarta)Environment: Cozy and nice place for hangout. The seat capacity isn’t much (its a small cafe actually), but you will get a romantic and intimate…Read more Cafe Reviews : BlackBone Cafe, Yogyakarta ID

Original post : Cafe Reviews : BlackBone Cafe, Yogyakarta ID

Wednesday, 15 April 2015

Cheryl’s Birthday Versi Sang Indra

Yeah The Awesome Question About Cheryl’s Birthday I wanna solve with my version of logic thinking. It may not pleased some people but it really pleased my logic a lot. But before I get to that point I wanna try to criticize the majority Answer of July 16 And before I criticize that majority Answer…Read more Cheryl’s Birthday Versi Sang Indra

Original post : Cheryl’s Birthday Versi Sang Indra

Tuesday, 14 April 2015

Alhamdulillah, saya dilamar! :)

Bismillahirrohmanirrohim, 12 April 2015, alhamdulillah, saya dilamar oleh seorang lelaki bersama keluarga besarnya untuk menjadi istri beliau. Beliau, seorang lelaki yang sholeh dan baik yang  saya kenal dan yang saya yakini, insyaAllah kami dapat saling melengkapi bersama - sama untuk taat kepada Allah, aamiin ya Robbal alamin. Alhamdulillah acara lamarannya berjalan lancar. Ya Allah, terimakasih, [...]

Original post : Alhamdulillah, saya dilamar! :)

Thursday, 2 April 2015

Mengapa Petugas Administrasi Suka Sewot?

Bismillah

Pertanyaan ini muncul sekitar tahun 2005, ketika saya dan Kres masih kuliah. Seingat saya, momennya adalah ketika kami selesai mengurus Kartu Rencana Studi di Bagian Akademik Fakultas. Dan jawaban si Kres kira-kira seperti ini.
"Rata-rata mereka (maksudnya penjaga loket, staff tata usaha, petugas administratif, orang yang bekerja di kantor kelurahan, dan yang setipe dengan itu) berkarakter demikian karena pekerjaan yang monoton bertahun-tahun, dengan pendapatan yang relatif biasa-biasa saja, sehingga tingkat stressnya tinggi" -- Kresna Bagus Pakerti alias Manuk alias Mamik atawa Sasukreizh, 2005
Mungkin hipotesa si Kres ada benarnya. Orang kalau kerjaannya tidak melibatkan otak kanan, seperti yang dikatakan Daniel Pink, maka bisa jadi profesi tersebut tidak akan berlangsung lama. Tergerus teknologi, tergerus jaman.

Original post : Mengapa Petugas Administrasi Suka Sewot?

Wednesday, 11 March 2015

Fixing Relationship

Bismillah

Pada salah satu episode Fear Factor, Joe Rogan bertanya pada salah seorang peserta. "Apa motivasimu mengikuti acara ini?" tanya Rogan. Kebetulan saat itu edisi ayah dan anak. "Akhir tahun lalu, anakku bermain api dan membuat seluruh garasiku terbakar. Sejak saat itu hubungan kami buruk. Aku ingin memperbaikinya"

Coba lihat baik-baik jawabannya. Bukan uang 50 ribu US dollar. Bukan pula popularitas. Bukan sekadar masuk TV. Tapi memperbaiki hubungan. Fixing relationship.

Saya jadi ingat salah satu alasan mengapa saya harus tinggal di Tangerang. Ketika itu saya benar-benar tidak punya uang untuk menyicil rumah, tapi Ibu separuh memaksa. Saya heran, mengapa sampai harus berdarah-darah begini? Beliau akhirnya bilang, "Ibu ingin kamu dekat dengan Mas (abang saya --pen). Supaya kalau kapan-kapan ibu main enak". Mungkin Ibu paham bahwa saya jarang bertemu Mas. She's thinking about fixing our relationship. Jadi kalau yang namanya keluarga tuh harusnya ya akrab gitu. Jangan diem-dieman.

Di pabrik juga begitu. Kadang kita punya konflik. Ribut. Beradu. Tapi selalu saja ada cara untuk memperbaiki semuanya. Saya jadi ingat salah satu quote di komik 20th Century Boys. "If you had no good memories, there is still plenty of time to make it. From now."

-- Gara-gara lihat blog Didats Triadi, kok jadi pengen migrasi ke WordPress dan kustomisasi Independent Publisher theme. Apalagi di Blogspot sekarang banyak sekali aturannya.

Original post : Fixing Relationship

Thursday, 5 March 2015

Tanah Abang

Bismillah

Tanah abang adalah miniatur kekusutan Jakarta. Macet, premanisme, pungli, manajemen pasar yang semrawut, lengkap dengan bisnis lendir tiap ba'da maghrib. Yang bikin luar biasa, semua itu terjadi di tengah sayup-sayup lantunan ayat suci Tuhan dari masjid di atas blok A.

Welcome to Indonesia, Sir.

Original post : Tanah Abang

Wednesday, 25 February 2015

"10 Tahun Kemudian..."

Bismillah

Sering dikisahkan di cerita-cerita sinema elektronik atau film-film, alur menjadi maju lebih cepat 5 atau 10 atau 20 tahun, lengkap dengan kalimat pengiring "10 Tahun Kemudian.." atau yang semacamnya.

Selama selang waktu 10 tahun itu, biasanya alur cerita menjadi jauh berbeza. Misal, yang semula miskin, tapi karena kejujuran dan ketekunan, akhirnya menjadi kaya. Yang semula orang kaya, tapi karena sombong tamak banyak lagu, tiba-tiba kena tipu lalu bangkrut. Yang semula jadi pembantu dari majikan bengis, kini menjadi majikan dari mantan majikannya itu. Misal ada yang kena hina dan dizolimi orang, pas udah gede ternyata jadi dokter lalu membalas kejahatan orang-orang yang menzoliminya dengan kebaikan.

Semua serba terbolak-balik, dan tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi dalam kurun waktu "10 Tahun Kemudian.." itu.

Lalu, mengapa orang-orang masih saja menilai sesuatu dari apa yang tampak saat ini, dan tidak mengindahkan apa yang akan terjadi dalam waktu yang lebih panjang?

Sudah menjadi fitrah, bahwa manusia akan lebih memilih hasil yang cepat daripada sabar menunggu hasil yang tidak kelihatan nyata, walaupun secara harfiah keuntungan dari penantian itu pasti berlipat ganda. Ini juga diteliti oleh Daniel Gilbert, penulis buku Stumbled on Happiness. Gilbert bilang, instant gratification ada karena kondisi otak manusia yang memang tidak terlalu banyak berevolusi sejak zaman purba. Bagian dari otak yang mengurus kesenangan sesaat adalah limbic system, yang juga berperan dalam ketertarikan seksual, termasuklah recreational drugs semacam alkohol, kafein, dan obat lainnya.

Kondisi limbic system yang masih "purba" inilah yang membuat banyak sekali orang yang mengutamakan keadaan saat ini dibanding menunda kesenangan. Misalnya, kita bisa lihat orang-orang tetap berebut masuk ke dalam kereta walaupun pasti tahu mereka nggak bakal kebagian tempat duduk. Atau kita bisa lihat kenapa pria lebih memilih pacar yang cantik bin bahenol walaupun tahu mereka tak akan sampai ke pelaminan soalnya si pria keburu bokek ngebayarin ceweknya ke salon hanya sekadar untuk mengikir kuku dan betulin posisi bulu mata palsu. Atau kita bisa lihat orang lebih pilih gonta-ganti gadget demi pamer di sosmed daripada investasi atau nyicil beli tanah. Atau kita bisa lihat orang yang waktu mudanya dihabiskan untuk bermaksiat bersenang-senang daripada melakukan amal sholeh demi surga yang "nggak kelihatan nyata".

Dan instant gratification inilah, yang seringkali membuat kita kehilangan kemampuan dalam mengambil keputusan penting. Orang-orang yang fokus pada penantian demi mendapat kesenangan yang lebih berlipat akan menjadi orang-orang sukses, sedangkan sisanya hanyalah jadi pecundang yang menuh-menuhin bumi.

Original post : "10 Tahun Kemudian..."

Sunday, 15 February 2015

Menikmati atawa Memiliki

Bismillah

Tetangga depan, Pak Taufik namanya, piara burung. Terpantau (diksinya norak tapi ya sudahlah) ada 3 kandang burung. Walau saya tak tahu menahu soal burung (kecuali burung yang sudah menemani sejak lahir), dari bau-baunya burung-burungnya adalah jenis mahal dan bagus. Istri Pak Taufik, Bu Taufik (ya iyalah, kalau Bu Bambang itu istrinya Pak Bambang), pernah bercerita ke Ibu saya kalau burung suaminya pernah beberapa kali jadi juara di kompetisi burung. Burungnya Pak Taufik katanya ada juga yang pernah mati, karena lupa dimasukin ke dalem rumah terus dirubung semut.

Ci cit cicit cuit cit cicit cuit burung tetangga bernyanyi, kayak lagu Joshua Suherman.

Saya jadi berpikir, banyak sekali hal-hal yang kita bisa nikmati, tanpa harus membeli, repot-repot merawat. Tanpa ada rasa posesivitas. Tanpa ada komitmen sebagai pemilik dan objek yang dimiliki. Burung contohnya, masih bisa saya nikmati suaranya, tanpa harus memandikan tiap pagi, kasih makan, dan membersihkan kotorannya. Mungkin kenikmatannya berbeda, tapi (Singlish) you get the idea lah..

Ada banyak hal lain yang bisa kita nikmati. TV, nggak perlu beli. Saya tidak punya TV sejak 2004. Hidup bahagia-bahagia saja. Kalau pengen nonton TV ya numpang nonton di kantor atau di kantor kelurahan (masih jaman??). Kalau mau nonton bola ya ke pos satpam atau lihat highlight-nya di YouTube. Mobil? Pinjem aja punya keluarga kalau memang butuh. Kalau nggak ya naek taksi atau bajaj.

Yang paling konyol menurut saya adalah kembang api tahun baru. Fenomena "semua orang membeli kembang api di malam tahun baru dan ramai-ramai membakarnya" adalah bukti bahwa tukang kembang api tahun baru adalah salesman handal. Coba bayangkan saja, Anda tidak perlu beli kembang api untuk menikmati indahnya langit tahun baru. Anda cukup mendongak saja. Seberapa sulit sih menengadahkan kepala, daripada punya resiko tangan terbakar kembang api tahun baru?

Mikir!

Original post : Menikmati atawa Memiliki

Friday, 13 February 2015

Pulang

Bismillah

Alhamdulillah, insya Allah saya akan pulang ke rumah orang tua untuk 4 hari. Tidak ada alasan khusus mengapa saya pulang kali ini. Bukan pula karena ingin merayakan Chinese New Year. Alasan kepulangan mungkin lebih ke telepon Ibu. Ibu bilang kalau saya tidak pulang, Ibu dan Ayah yang ingin berangkat ke Tangerang.

Pertimbangan pertama, kalau dua orang tiketnya lebih mahal daripada satu tiket. Pertimbangan kedua dan utama, tidak ada kegiatan berarti yang bisa mereka berdua lakukan di sini selain menunggu anaknya pulang larut malam sambil hati dipenuhi rasa cemas. Jadi diputuskan saya yang akan pulang saja.

Harga tiket alhamdulillah sedang dipotong 100 ribu dari tiket dot com. Dua tiket pulang pergi jadi 200 ribu. Lumayan untuk beli pulsa Bolt. Walau sebenarnya harga tiket jadi 2 kali lebih mahal daripada harga normal (karena imlek), tapi tidak ada waktu kejepit lain yang lebih dekat dari bulan Februari ini. Ada di bulan Mei, tapi bulan Mei terlalu lama.

Hore pulang.

Original post : Pulang

Khutbah Jumat

Bismillah

Ada 4 hal yang menjadi sarana dari Allah untuk mengurangi dosa kita.

0. Taubat. Taubat berasal dari akar kata "taaba" yang berarti "kembali". Orang bertaubat, mestinya kembali ke jalan Allah lagi.
1. Istighfar. Istighfar adalah memohon ampunan. Dalam sehari Rasul memohon ampun (beristighfar) minimal 100 kali.
2. Berbuat baik atawa beramal soleh. Setiap kali melakukan dosa dan kedzaliman, kita sholat dan ingat. Lalu menimpa dosa dengan amal-amal lain.
3. Sabar ketika ditimpa musibah. Musibah tidak harus besar. Tidak mesti bencana alam seperti banjir atau tanah longsor. Musibah bisa berupa kemacetan di jalan raya, ban motor kempes, atau sakit. Ketika kita sakit, dan sabar menerima, itulah sarana dari Allah untuk menghapuskan dosa-dosa. Ketika orang sakaratul maut (hampir mati), dan diberi sakit keras, sebenarnya itu adalah cara Allah untuk menyucikan diri si sakit, agar ketika di surga sudah bersih.

Kalau udah meninggal, bisa saja kita masih menumpuk dosa. Misalnya karena pemikiran kita dibukukan, lalu dari buku itu orang-orang jadi ikut menyeleweng.

Original post : Khutbah Jumat

Saturday, 24 January 2015

App to Help You Learn Japanese

While writing this post, I wonder when the last time I wrote a post here. I wish I have more time, so I can write here again. Well, back to the topic, for everyone who are preparing to come here to Japan, for them who want to learn Japanese, also for them who are preparing […]

Original post : App to Help You Learn Japanese

Tuesday, 20 January 2015

Tiny Planet di Gunung Api Purba Nglanggeran Jogja


Belakangan ini gue lagi doyan bikin planet. Iya bikin planet, kegiatan buang-buang waktu yang sekarang lagi naik daun. Makin kesini yang namanya fotografi memang makin complicated. Kalau jaman kamera SLR analog dulu sih viewfinder dengan refleksi cermin dari SLR memang harga mati untuk mengetahui hasil foto secara instan. Tapi kalo sekarang, nenteng kamera DSLR, ngintip viewfinder sambil ngerasa keren, dan jepret pake "programmed auto" sama dengan alay. Jaman sekarang sudah ada teknologi yang bernama Crystal Bright LED dengan resolusi High Definition terpasang pada tiap-tiap kamera DSLR dan para alay masih percaya bahwa ngintip viewfinder bisa menghasilkan gambar yang lebih bagus. Maksud gue, Single Lens Reflect alias SLR itu teknologi 30 tahun yang lalu, sekarang sudah ada teknologi mirrorless yang menggantikan cermin untuk viewfinder dengan layar LED sehingga kamera bisa lebih ramping, jadi meng-alay dengan viewfinder ketika memotret panorama atau objek tunggal yang nggak bergerak itu bukan lagi keren, tapi lucu.

Baiklah gue ngelantur, mari kembali ke topik. Makin maju teknologi, fotografi pun semakin beragam. Nggak melulu bergantung kepada DSLR dan lensa, sekarang ada yang namanya Phone Photography, Drone Photography, dan teknik-teknik fotografi dengan software semacam HDR, The Return of Black and White, dan banyak lagi, sampai yang rada nyeleneh macem bikin planet tadi. Gue sih bukan fotografer atau maniak fotografi, tapi nggak ada salahnya nyoba-nyoba.

Weekend kemaren gue setengah maksain jalan ke Gunung Api Purba Nglanggeran di Jogja. Bulan-bulan begini memang cuaca di Jogja suka labil. Yang paginya langit terang-benderang layaknya summer in paradise tiba-tiba berubah 180 derajat menjadi november rain ketika gue sampai di puncak. Yang tadinya gue berharap bisa menikmati matahari tenggelam dari salah satu tempat terindahnya di Jogja, berujung jadi menghibur diri dengan jepret-jepret dan bikin planet dengan salah satu aplikasi tiny planet effect gratisan, Small Planet, di handphone gue. 

Hasilnya masih kasar sih. Berhubung baru nyoba sekali dua kali, jadi gue masih belom fasih bikin planetnya. Tapi kalau dilihat dengan ukuran besar lumayan menyejukkan mata kok ;)
   

    

    



Many thanks to temen gue Titiew yang cape-cape nemenin menyusur sela-sela tebing batu, becek-becekan di bawah guyuran hujan, manjat-manjat dan menerobos semak dan hutan, hingga akhirnya sampai ke puncak, dan rela hanya dibayar dengan kopian film-film IMDB Top 250 :))

Tentang Gunung Api Purba Nglanggeran sendiri, gue rada males bikin FRnya. Yang pasti sih sisa-sisa reruntuhan gunung api yang pernah berdiri sekitar 60 juta tahun lalu ini bukan termasuk tujuan wisata kelas satu, dan bukan untuk kamu-kamu yang mencari tempat liburan nyaman. Karena untuk sampai puncak dengan ketinggian 700mdpl ini musti sedikit trekking dengan medan yang lumayan menantang. Tapi untuk mereka-mereka yang doyan outbound, cari tempat ngecamp yang cozy tanpa harus mendaki gunung beneran, dan penasaran dengan sunset terindah di Jogja, atau sekedar melihat hijaunya pepohonan dan heningnya suasana pedesaan bisa bikin kamu nyaman, tempat ini adalah salah satu yang ternyaman di Jogja. Gunung api purba ini berada di daerah Nglanggeran, Gunungkidul, sekitar 10 km ke arah kiri dari perempatan bukit bintang. Silakan cek sendiri di Google Maps :p Siapkan kendaraan pribadi karena nggak ada angkutan umum menuju ke sana.

Gue pajang foto-fotonya sedikit. Sisanya silakan eksplore sendiri, karena menurut gue tempat ini lebih banyak menawarkan pengalaman daripada sekedar pemandangan, walaupun memang viewnya juga nggak kalah oke untuk jadi background selfie menggunakan selfie stick aka tongsis. Sedikit spoiler, setelah sampai di puncak dan menikmati pemandangan sekitar dengan awan-awan tipis dan kabut yang melayang di sela-sela puncak-puncak bebatuan purba gue dan Titiew sepakat bahwa film Avatar pastilah mengambil adegan disini, atau setidaknya terinspirasi dari tempat ini. Well, selamat menjelajah, tersesat, dan terkagum-kagum! :)











Original post : Tiny Planet di Gunung Api Purba Nglanggeran Jogja

Wednesday, 7 January 2015

Sakit

Bismillah

Seharian hanya istirahat. Buat noleh saja susah. Dugaan pertama adalah dari makanan. Mungkin karena kemarin makan Pacific Gold Beef Jerky, oleh-oleh juragan pabrik dari US. Sodiumnya tinggi sekali. Atau mungkin nggak biasa makan makanan mahal buat orang kaya. Kedua, tabiat hidup. Berhari-hari kurang tidur. Pekerjaan dari mandor pabrik agak menggila. Tidak berat secara fisik, tapi berat secara mental.

Jadi ingat pesan guru ngaji, "Tubuh kita memiliki hak. Hak untuk istirahat, hak untuk diasupi makanan yang halal dan baik. Dan jika hak-haknya tidak kita penuhi, berarti kita dzalim. Suatu saat tubuh akan berteriak, salah satu bentuknya, kita sakit"

Apa harus cuti terus pulang kampung sebentar ya?

Original post : Sakit

Monday, 5 January 2015

Software

Bismillah

Pada saat nonton Bloomberg TV beberapa hari lalu, mereka meliput tentang De Beers, salah satu produsen diamonds mulai dari drilling sampai proses jadi perhiasan. Mereka memiliki program komputer yang dapat melakukan pemindaian pada sebuah bongkahan berlian mentah (dari tambang di Botswana), untuk selanjutnya menentukan potongan seperti apa yang harus dilakukan sedemikian sehingga profitnya maksimum. What kind of sorcery is that?

Dan di negeri ini programmernya masih berkutat dengan Sistem Informasi Kepegawaian. Jauh sekali rasanya.



Original post : Software

Wednesday, 31 December 2014

2015

Bismillah

Alhamdulillah masih bisa dipertemukan dengan tahun 2015. Tak ada kalimat lain yang mesti disampaikan selain syukur pada Allah SWT. Atas segala nikmat dan karuniaNya. Pembelajaran, musibah, bangkit dari kejatuhan, proses hijrah (yang terus belanjut), kesehatan, keluarga yang mendukung, pekerjaan yang baik, teman-teman, dan masih banyak hal yang tidak pantas untuk selalu dijadikan bahan keluhan.

Tak seperti tahun sebelumnya, tahun 2014 ini rapor resolusi sedikit amburadul. Satu-satunya keinginan yang direncakan tak tercapai sempurna. Tapi tak mengapa. Insya Allah kita bisa jadikan resolusi tahun lalu menjadi bagian dari resolusi tahun depan. Semoga hutang bisa segera terlunasi, minimal separuhnya. Aamiin.

Kayaknya tidak ada hal lain yang mesti direncanakan lagi. Kalau sekadar "menjadi pribadi lebih baik" itu sih resolusi harian aja. Hahaha.

Tangerang. Ditulis karena nggak bisa tidur. Berisik. Dar der dor terereret. Pret.

Original post : 2015

Friday, 26 December 2014

Posesivitas

Bismillah

Kata 'aktivitas' asalnya dari serapan 'activity'. Jadi kalau ujungnya '-ity', diserap jadi '-itas', seperti 'selebrity' yang (akhirnya) diserap jadi 'selebritas'. Dulu entah orang kampung mana yang mempopulerkan 'selebriti' (dengan 'i'). Dalam bahasa Inggris sebetulnya nggak ada kata 'possessivity', tapi biar tulisan ini keren bin najong biarlah, layaknya kata 'selebriti', istilah salah kaprah ini jadi tren.

Possessive sebetulnya adalah adjective dan noun, artinya menurut Google translate:
Showing a desire to own things and an unwillingness to share what one already owns.
Boleh jadi orang yang posesif itu kena penyakit hubbud dunya. Kecintaannya terlalu berlebihan pada dunia. Orang-orang seperti ini, bila hartanya hilang barang secuil sahaja, sedihnya berhari-hari. Semoga kita terhindar dari hal-hal sedemikian. Ih, Bimbo banget nasehatnya.

Ceritanya tetangga depan ada hajatan hari Minggu lalu. Karena keluarganya banyak, mereka pinjam satu kamar buat dijadiin tempat menginap. Singkat cerita, ane akhirnya pinjemin seisi rumah, dan memilih numpang tidur di rumah Abang, kebetulan Abang sekeluarga ke Bandung. Pas hajatan selesai, ternyata semangka ane mati. Mungkin kelindes sama gerobak buat angkut peralatan orkes.

Tapi, tidak ada kesedihan. Tidak ada duka. Tidak ada rasa sesal. Tidak ada apapun. Mengapa? Mungkin karena sedari awal saya tidak pernah menanam semangka. Yak, benar. Semangka itu tumbuh sendiri begitu saja di depan rumah.

d/h semangka 
Berarti, bukankah posesivitas itu bisa dikaitkan dengan filosofi "sedari awal nggak punya"? Coba kita berpikir dari awal nggak punya handphone, jadi kalau handphone hilang, ya perasaannya biasa-biasa saja. Yah, mirip-mirip filosofi nggak punya dompet.

Saya jadi ingat quote dari Li Mu Bai kepada Yu Shu Lien, di film Crouching Tiger Hidden Dragon,
There is nothing we can hold onto in this world, only by letting go can we truly possess what is real


Original post : Posesivitas