Thursday, 2 April 2015

Mengapa Petugas Administrasi Suka Sewot?

Bismillah

Pertanyaan ini muncul sekitar tahun 2005, ketika saya dan Kres masih kuliah. Seingat saya, momennya adalah ketika kami selesai mengurus Kartu Rencana Studi di Bagian Akademik Fakultas. Dan jawaban si Kres kira-kira seperti ini.
"Rata-rata mereka (maksudnya penjaga loket, staff tata usaha, petugas administratif, orang yang bekerja di kantor kelurahan, dan yang setipe dengan itu) berkarakter demikian karena pekerjaan yang monoton bertahun-tahun, dengan pendapatan yang relatif biasa-biasa saja, sehingga tingkat stressnya tinggi" -- Kresna Bagus Pakerti alias Manuk alias Mamik atawa Sasukreizh, 2005
Mungkin hipotesa si Kres ada benarnya. Orang kalau kerjaannya tidak melibatkan otak kanan, seperti yang dikatakan Daniel Pink, maka bisa jadi profesi tersebut tidak akan berlangsung lama. Tergerus teknologi, tergerus jaman.

Original post : Mengapa Petugas Administrasi Suka Sewot?

Wednesday, 11 March 2015

Fixing Relationship

Bismillah

Pada salah satu episode Fear Factor, Joe Rogan bertanya pada salah seorang peserta. "Apa motivasimu mengikuti acara ini?" tanya Rogan. Kebetulan saat itu edisi ayah dan anak. "Akhir tahun lalu, anakku bermain api dan membuat seluruh garasiku terbakar. Sejak saat itu hubungan kami buruk. Aku ingin memperbaikinya"

Coba lihat baik-baik jawabannya. Bukan uang 50 ribu US dollar. Bukan pula popularitas. Bukan sekadar masuk TV. Tapi memperbaiki hubungan. Fixing relationship.

Saya jadi ingat salah satu alasan mengapa saya harus tinggal di Tangerang. Ketika itu saya benar-benar tidak punya uang untuk menyicil rumah, tapi Ibu separuh memaksa. Saya heran, mengapa sampai harus berdarah-darah begini? Beliau akhirnya bilang, "Ibu ingin kamu dekat dengan Mas (abang saya --pen). Supaya kalau kapan-kapan ibu main enak". Mungkin Ibu paham bahwa saya jarang bertemu Mas. She's thinking about fixing our relationship. Jadi kalau yang namanya keluarga tuh harusnya ya akrab gitu. Jangan diem-dieman.

Di pabrik juga begitu. Kadang kita punya konflik. Ribut. Beradu. Tapi selalu saja ada cara untuk memperbaiki semuanya. Saya jadi ingat salah satu quote di komik 20th Century Boys. "If you had no good memories, there is still plenty of time to make it. From now."

-- Gara-gara lihat blog Didats Triadi, kok jadi pengen migrasi ke WordPress dan kustomisasi Independent Publisher theme. Apalagi di Blogspot sekarang banyak sekali aturannya.

Original post : Fixing Relationship

Thursday, 5 March 2015

Tanah Abang

Bismillah

Tanah abang adalah miniatur kekusutan Jakarta. Macet, premanisme, pungli, manajemen pasar yang semrawut, lengkap dengan bisnis lendir tiap ba'da maghrib. Yang bikin luar biasa, semua itu terjadi di tengah sayup-sayup lantunan ayat suci Tuhan dari masjid di atas blok A.

Welcome to Indonesia, Sir.

Original post : Tanah Abang

Wednesday, 25 February 2015

"10 Tahun Kemudian..."

Bismillah

Sering dikisahkan di cerita-cerita sinema elektronik atau film-film, alur menjadi maju lebih cepat 5 atau 10 atau 20 tahun, lengkap dengan kalimat pengiring "10 Tahun Kemudian.." atau yang semacamnya.

Selama selang waktu 10 tahun itu, biasanya alur cerita menjadi jauh berbeza. Misal, yang semula miskin, tapi karena kejujuran dan ketekunan, akhirnya menjadi kaya. Yang semula orang kaya, tapi karena sombong tamak banyak lagu, tiba-tiba kena tipu lalu bangkrut. Yang semula jadi pembantu dari majikan bengis, kini menjadi majikan dari mantan majikannya itu. Misal ada yang kena hina dan dizolimi orang, pas udah gede ternyata jadi dokter lalu membalas kejahatan orang-orang yang menzoliminya dengan kebaikan.

Semua serba terbolak-balik, dan tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi dalam kurun waktu "10 Tahun Kemudian.." itu.

Lalu, mengapa orang-orang masih saja menilai sesuatu dari apa yang tampak saat ini, dan tidak mengindahkan apa yang akan terjadi dalam waktu yang lebih panjang?

Sudah menjadi fitrah, bahwa manusia akan lebih memilih hasil yang cepat daripada sabar menunggu hasil yang tidak kelihatan nyata, walaupun secara harfiah keuntungan dari penantian itu pasti berlipat ganda. Ini juga diteliti oleh Daniel Gilbert, penulis buku Stumbled on Happiness. Gilbert bilang, instant gratification ada karena kondisi otak manusia yang memang tidak terlalu banyak berevolusi sejak zaman purba. Bagian dari otak yang mengurus kesenangan sesaat adalah limbic system, yang juga berperan dalam ketertarikan seksual, termasuklah recreational drugs semacam alkohol, kafein, dan obat lainnya.

Kondisi limbic system yang masih "purba" inilah yang membuat banyak sekali orang yang mengutamakan keadaan saat ini dibanding menunda kesenangan. Misalnya, kita bisa lihat orang-orang tetap berebut masuk ke dalam kereta walaupun pasti tahu mereka nggak bakal kebagian tempat duduk. Atau kita bisa lihat kenapa pria lebih memilih pacar yang cantik bin bahenol walaupun tahu mereka tak akan sampai ke pelaminan soalnya si pria keburu bokek ngebayarin ceweknya ke salon hanya sekadar untuk mengikir kuku dan betulin posisi bulu mata palsu. Atau kita bisa lihat orang lebih pilih gonta-ganti gadget demi pamer di sosmed daripada investasi atau nyicil beli tanah. Atau kita bisa lihat orang yang waktu mudanya dihabiskan untuk bermaksiat bersenang-senang daripada melakukan amal sholeh demi surga yang "nggak kelihatan nyata".

Dan instant gratification inilah, yang seringkali membuat kita kehilangan kemampuan dalam mengambil keputusan penting. Orang-orang yang fokus pada penantian demi mendapat kesenangan yang lebih berlipat akan menjadi orang-orang sukses, sedangkan sisanya hanyalah jadi pecundang yang menuh-menuhin bumi.

Original post : "10 Tahun Kemudian..."

Sunday, 15 February 2015

Menikmati atawa Memiliki

Bismillah

Tetangga depan, Pak Taufik namanya, piara burung. Terpantau (diksinya norak tapi ya sudahlah) ada 3 kandang burung. Walau saya tak tahu menahu soal burung (kecuali burung yang sudah menemani sejak lahir), dari bau-baunya burung-burungnya adalah jenis mahal dan bagus. Istri Pak Taufik, Bu Taufik (ya iyalah, kalau Bu Bambang itu istrinya Pak Bambang), pernah bercerita ke Ibu saya kalau burung suaminya pernah beberapa kali jadi juara di kompetisi burung. Burungnya Pak Taufik katanya ada juga yang pernah mati, karena lupa dimasukin ke dalem rumah terus dirubung semut.

Ci cit cicit cuit cit cicit cuit burung tetangga bernyanyi, kayak lagu Joshua Suherman.

Saya jadi berpikir, banyak sekali hal-hal yang kita bisa nikmati, tanpa harus membeli, repot-repot merawat. Tanpa ada rasa posesivitas. Tanpa ada komitmen sebagai pemilik dan objek yang dimiliki. Burung contohnya, masih bisa saya nikmati suaranya, tanpa harus memandikan tiap pagi, kasih makan, dan membersihkan kotorannya. Mungkin kenikmatannya berbeda, tapi (Singlish) you get the idea lah..

Ada banyak hal lain yang bisa kita nikmati. TV, nggak perlu beli. Saya tidak punya TV sejak 2004. Hidup bahagia-bahagia saja. Kalau pengen nonton TV ya numpang nonton di kantor atau di kantor kelurahan (masih jaman??). Kalau mau nonton bola ya ke pos satpam atau lihat highlight-nya di YouTube. Mobil? Pinjem aja punya keluarga kalau memang butuh. Kalau nggak ya naek taksi atau bajaj.

Yang paling konyol menurut saya adalah kembang api tahun baru. Fenomena "semua orang membeli kembang api di malam tahun baru dan ramai-ramai membakarnya" adalah bukti bahwa tukang kembang api tahun baru adalah salesman handal. Coba bayangkan saja, Anda tidak perlu beli kembang api untuk menikmati indahnya langit tahun baru. Anda cukup mendongak saja. Seberapa sulit sih menengadahkan kepala, daripada punya resiko tangan terbakar kembang api tahun baru?

Mikir!

Original post : Menikmati atawa Memiliki

Friday, 13 February 2015

Pulang

Bismillah

Alhamdulillah, insya Allah saya akan pulang ke rumah orang tua untuk 4 hari. Tidak ada alasan khusus mengapa saya pulang kali ini. Bukan pula karena ingin merayakan Chinese New Year. Alasan kepulangan mungkin lebih ke telepon Ibu. Ibu bilang kalau saya tidak pulang, Ibu dan Ayah yang ingin berangkat ke Tangerang.

Pertimbangan pertama, kalau dua orang tiketnya lebih mahal daripada satu tiket. Pertimbangan kedua dan utama, tidak ada kegiatan berarti yang bisa mereka berdua lakukan di sini selain menunggu anaknya pulang larut malam sambil hati dipenuhi rasa cemas. Jadi diputuskan saya yang akan pulang saja.

Harga tiket alhamdulillah sedang dipotong 100 ribu dari tiket dot com. Dua tiket pulang pergi jadi 200 ribu. Lumayan untuk beli pulsa Bolt. Walau sebenarnya harga tiket jadi 2 kali lebih mahal daripada harga normal (karena imlek), tapi tidak ada waktu kejepit lain yang lebih dekat dari bulan Februari ini. Ada di bulan Mei, tapi bulan Mei terlalu lama.

Hore pulang.

Original post : Pulang

Khutbah Jumat

Bismillah

Ada 4 hal yang menjadi sarana dari Allah untuk mengurangi dosa kita.

0. Taubat. Taubat berasal dari akar kata "taaba" yang berarti "kembali". Orang bertaubat, mestinya kembali ke jalan Allah lagi.
1. Istighfar. Istighfar adalah memohon ampunan. Dalam sehari Rasul memohon ampun (beristighfar) minimal 100 kali.
2. Berbuat baik atawa beramal soleh. Setiap kali melakukan dosa dan kedzaliman, kita sholat dan ingat. Lalu menimpa dosa dengan amal-amal lain.
3. Sabar ketika ditimpa musibah. Musibah tidak harus besar. Tidak mesti bencana alam seperti banjir atau tanah longsor. Musibah bisa berupa kemacetan di jalan raya, ban motor kempes, atau sakit. Ketika kita sakit, dan sabar menerima, itulah sarana dari Allah untuk menghapuskan dosa-dosa. Ketika orang sakaratul maut (hampir mati), dan diberi sakit keras, sebenarnya itu adalah cara Allah untuk menyucikan diri si sakit, agar ketika di surga sudah bersih.

Kalau udah meninggal, bisa saja kita masih menumpuk dosa. Misalnya karena pemikiran kita dibukukan, lalu dari buku itu orang-orang jadi ikut menyeleweng.

Original post : Khutbah Jumat