Friday, 8 March 2013

Housewives

Bismillah

Tulisan ini terinspirasi oleh Yohanes Nugroho, melalui tulisannya "Ibu Bekerja vs Ibu Rumah Tangga"

Saya sepenuhnya setuju bahwa seorang Ibu, apalagi di masa awal tumbuh kembang anak, sebaiknya lebih memprioritaskan kehidupan rumah tangga daripada karir. Bukannya bermaksud untuk merendahkan derajat wanita, atau menyia-nyiakan pendidikan tinggi seorang istri, tapi bila yang lebih dikejar adalah pemenuhan ekonomi, maka lebih baik Ibu menghabiskan lebih banyak waktu bersama buah hati.

Lalu bagaimana menambal pengeluaran keluarga bila pemasukan dari sisi Ibu tidak ada? Menurut saya selama sang suami masih punya titit, seharusnya suami yang harus bekerja jauh lebih keras. Suami yang harus menghabiskan waktu di luar rumah, banting tulang peras keringat mencari uang tambahan, karena kehadiran Ayah masih belum terlalu penting. Ayah harus mencari nafkah lebih banyak.

Bagaimana dengan solusi sebagian besar keluarga yang merekrut pembantu atau pengasuh bayi? Hm, terus terang saya agak kurang percaya seorang pengasuh, betapa pun mahal gajinya, akan menjadi pengganti yang sempurna. Pengasuh tidak mungkin seorang sarjana, malah boleh jadi hanya SD atau SMP. Kasih sayang dan tutur katanya terbatas hanya pada angka penghasilannya sebulan. Kalau bayi menangis, menurut "SOP" pengasuh hanya akan mengambil botol susu instan, atau membersihkan popok.

Untuk pengasuh anak usia 2 tahun, biasanya bila anak tertidur, pengasuh nonton televisi. Karena pendidikannya rendah maka yang ditonton tak jauh-jauh dari sinetron. Kalau kebetulan anak tak tertidur dan turut serta bermain di ruang keluarga, anak turut pula menonton sinetron yang kebanyakannya adalah adegan kekerasan atau tak pantas. Apakah pengasuh dengan salary Rp 1juta sebulan paham hal itu?

Mungkin pendapat ini bisa jadi salah, karena banyak pula wanita yang berkarir di bidang-bidang penting untuk kemaslahatan orang banyak, seperti dokter atau dosen universitas. Saya pun salut dengan para Ibu yang di sela-sela waktu luangnya seperti sapi perah, memeras tetek demi persedian ASI untuk si kecil. Duh, tapi saya kok jadi kasihan betul kalau pentil Ibu jadi lecet demi mendukung ekonomi keluarga. Tidak sebanding rasa-rasanya.

Ini tentu hanya sekadar opini pribadi. Terus terang Ibu saya pun seorang pekerja di instansi pemerintah. Cuma mungkin karena beliau berangkat jam 8 pagi pulang jam 12 siang, boleh jadi porsi waktunya tetap lebih banyak di rumah untuk mengajari anaknya berdagang membaca menulis dan bermain.

Catatan : dengan sangat terpaksa intensitas ngeblog di sini mesti saya kurangi menjadi sekali sebulan, karena saya mengurusi beberapa blog lain (yang dipasangi adsense). :D


Original post : Housewives

No comments:

Post a Comment