Thursday, 14 June 2007

Jogja, kota dengan ribuan motor

Ada suatu kota dimana tempat parkir adalah bisnis yang menguntungkan.


Bagi yang pernah tinggal di Jogjakarta pasti tau bagaimana parahnya transportasi umum di kota ini. Bus-bus kota, berkarat boros bensin dengan asap hitam berseliweran menguasai jalan. Dengan rute berputar-putar, ongkos jauh dekat dua ribu–tidak mau kurang walau kamu hanya naik sejauh satu kilo–dan jadwal operasi yang hanya sampai jam 6 sore membuat bus kota tidak dapat diandalkan. Kendaraan pribadi menjadi alternatif: motor salah satunya.


Transportasi umum disini sangat tidak dapat diharapkan. Bus: tidak semua bagian kota dilewati jalur bus. Becak: apa mau setiap kali naik saja lima ribu, itupun untuk jarak dekat, belum termasuk perasaan kurang manusiawi terhadap mas-mas becak. Taksi: jangan harap menemukan taksi dijalan-jalan kecil. Ojek: sepertinya hanya mangkal di terminal dan stasiun? Angkot: bukannya cuma ada di bogor?


Entah kenapa kota ini begitu unik dengan sistem transportasi umum berusia puluhan tahun. Ketidakrelaan melepas bus-bus tua dan pertimbangan akan nasib supir (?) membuat kesemrawutan ini tidak pernah berakhir. Tiada angkot disini, tiada pangkalan ojek, hanya becak yang mangkal di perempatan kampung. Warga beradaptasi dengan alternatif sendiri: sepeda motor. Motor adalah nyawa disini, setiap orang punya motor: karyawan, pedagang, mahasiswa dan mungkin supir bus itu sendiri. Jogja adalah kota dengan ribuan motor: eksotisme tersendiri yang membuatnya terasa sangat dinamis. Wajah-wajah dibalik helm dan slayer warna-warni di lampu merah, tukang parkir berwajah ramah adalah keseharian disini.


motor.pngMotor menjadi cukup penting sebagai syarat biar tidak dianggap miskin, atau salah satu syarat seorang pemuda agar ada gadis yang melirik. Sepertinya prinsipnya hanya satu, yang penting punya, tidak perlu gengsi disini. Motor baru ataupun lama tidak masalah, toh motor hanya sebuah alat, sama-sama terpaksa bayar parkir dimana-mana.


Jangan heran kalau seragam yang sedang tren disini adalah jaket motor dan aksesoris yang sedang mode adalah helm. Kata teman saya, orang jogja kalau masuk toko pun pakai helm. Dan kata saya, cuma di kota ini kamu bisa menemukan plat motor dari A sampai Z: motor bawaan dari mahasiswa rantau.


Masalahnya tidak semua orang punya motor. Kota ini sudah terbiasa dan beradaptasi dengan keadaan transportasi umum yang buruk, dan pemerintah sepertinya tidak melakukan apa-apa untuk membangun transportasi yang lebih nyaman.. Barangkali nyamannya hanya dihati saja.



Original post : Jogja, kota dengan ribuan motor

No comments:

Post a Comment