Wednesday, 12 June 2013

Menyerah

Bismillah

Suatu waktu di tahun 2008, di sebuah universitas terkemuka di Endonesa, seorang mahasiswa yang lebih gemar jualan daripada masuk kuliah, menatap sendu lembar soal ujian mata kuliah Simulasi. Satu lembar soal itu sebenarnya berisi hanya 2 soal saja, nomor 1 dan nomor 2. Namun tak ada satu pun yang ia mahfumi. Ia pun meninggalkan ruangan, bahkan sebelum mengisi absensi. Pulang ke rumah, kemudian tidur.

Sekali waktu kita mesti sadar diri. Tahu malu. Ngaca. Pasrah pada nasib. Angkat tangan. Menerima takdir. Pulang dengan tangan hampa. Menyadari bahwa dunia, dan alam seisinya, jauh lebih hebat. Mengagumi kemenangan semesta. Mengalah. Takluk. Mundur teratur. Menunggu lagi sementara. Mengibarkan bendera putih. Bertekuk lutut. Keok. Menyerah.

Selain ada yang kita capai, mestinya kita juga tahu kalau ada hal-hal yang harus kita relakan pergi. Belum kesampaian. Di sini kita belajar untuk tak terlalu menuruti ego. Ego untuk selalu wijaya, unggul, walau badan sudah babak belur nan berdarah-darah. Ego kita harus kita kesampingkan, sebentar saja, supaya kita tidak semakin dipecundangi.

Dalam catur ada istilah rokade (dalam bahasa Inggris, castling), yang artinya posisi raja dan benteng ditukar. Raja adalah buah paling penting, namun dengan ruang gerak terbatas. Maksimal 1 langkah ke kotak di sebelahnya. Dengan skill terbatas sedemikian, mustahil raja diikutkan dalam penyerangan di awal permainan. Raja harus bertahan, dan biarkan orang lain saja yang maju duluan. Menyerah, dalam artian "menyerah"-kan segala urusan ke orang lain dulu.

Menyerah, untuk menjadi jawara. Menyerah, menunggu kesempatan untuk membantu berjaya di akhir atraksi. Menyerah, bukan berarti tak punya wibawa. Menyerah, dengan bijak dan penuh perhitungan. Menyerah, biar tak mati konyol. Menyerah, karena kita tahu angin akan berbalik arah. Atau menyerah, karena yang kita inginkan sebenarnya adalah kebahagiaan orang lain.

Setiabudi, Jakarta Selatan, jam 3 pagi
(dikasih tempat sama jam tulisan dibuat, sok-sokan kayak penulis kondang. Hahaha)


Original post : Menyerah

1 comment:

  1. kata-katamu Bow, berbau sastra :P
    "Miliki semangat paling tinggi di bintang tertinggi "(Dr Aidh bin Abdullah Al-Qarni)^_^

    ReplyDelete