Sunday, 24 March 2013

Log

Bismillah

Saya mencoba untuk menulis apapun yang saya bisa malam ini. Kata seorang teman, nulis blog itu kayak abege alay nulis status di Facebook aja. Ada like atau nggak, ada komen atau nggak, terus aja bikin. Kalo perlu kita yang like atau kasih komen sendiri. Di Capcuan si Afie dan Rei sudah ngebut dengan postingan mereka. Masak saya yang calon peraih Pulitzer cuma posting sekali sebulan? *semir jambul*

Klonengan
Ceritanya saya sedang membuat riset sederhana. Bikin akun klonengan di Facebook, pake foto-foto cewek tsakep, lalu memulai Taking Lives. Mengambil kehidupan orang lain, mengganti nama, dan merasakan memiliki kelainan berupa Multiple Personality Disorder. Tujuannya adalah menjadi buzzer dengan menggaet sebanyak mungkin teman (sejauh ini sudah 3000 teman, sejak Desember 2012 lalu). Ujung cerita akun klonengan ini pun saya belum tahu mau dikemanakan. Tapi ini menarik untuk belajar marketing. Dengan begini, saya ingin memproklamirkan diri sebagai Pakar Klonengan Nomer 1 di Indonesia. Boleh kan? Boleh aja deh!

Montorrrr
Akhirnya saya memutuskan untuk beli motor di Jakarta. Terpaksa beli tunai, karena nggak punya KTP Jakarta. Kenapa gak bikin? Soalnya kalo jadi penduduk Jakarta nanti naek hajinya mesti antri 13 tahun lagi. Ogah. Jadi untuk sementara tahan-tahan dulu lah ituh KTP kampung yang walaupun saya pulang tetep nggak bisa dipake buat nyoblos pemilu karena birokrasi negeri ini yang kusut. Yang penting saya mau daftar haji di kampung sahaja, lebih cepet.

Iya, Anda benar. Saya menjadi kontributor kemacetan di kota ini. Tentu ada pergulatan batin (set dah istilahnya) sebelum mengambil keputusan ini. Intinya adalah saya kehilangan lebih banyak waktu dan kesempatan kalau saya naik angkutan umum yang belum beres. Sebagai bentuk penebusan dosa, saya selalu pakai Pertamax. Selain untuk udara yang bebas timbal, juga sebagai rasa keadilan kasih jatah untuk sodara-sodara kita yang miskin (atau pura-pura miskin) dengan membeli bensin harga seliter goceng. Oia satu lagi, saya juga berjanji untuk tidak akan pernah membunyikan klakson. Jakarta sudah kebanyakan orang gila yang main asal klakson tapi nggak jelas alasannya apa.

iPhone
Dari Januari kemarin saya dibeliin iPhone 4S dari pabrik, soalnya sudah lebih dari 3 bulan ngeburuh. Memang sih, ini hengpon lebih bagus daripada hengpon Samsung Android saya yang belum laku-laku dilego di Kaskus. Tapi, entah kenapa orang-orang di sekeliling kita mengira kalau kita sudah punya gadget yang bagus, happiness level kita akan meningkat drastis.

Saya pikir itu tidak sepenuhnya benar. More stuff means more happiness? Padahal tidak juga. Kita lihat tetangga, teman, orang-orang pada beli gadget baru, t-shirt, mobil, apapun itu, maka kita juga menginginkan hal yang sama, dengan maksud untuk menunjukkan bahwa kita akan jadi orang yang lebih bahagia. Namun, boleh jadi hidup kita ini seperti naik odong-odong. Bayar noceng, goyang-goyang sepuluh menit diiringi lagu-lagu gembira, tapi sebenarnya nggak kemana-mana. Semacam bahagia, tapi sekadar pura-pura.

Boleh jadi hidup kita ini seperti naik odong-odong. Bayar noceng, goyang-goyang sepuluh menit diiringi lagu-lagu gembira, tapi sebenarnya nggak kemana-mana. Semacam bahagia, tapi sekadar pura-pura.


SimCity
Lagi keranjingan nonton screencast Youtube orang-orang yang sudah beli game ini duluan. Sejak Maxis dibeli oleh EA dan dijadikan divisi tersendiri, game ini sepertinya punya progress yang bagus, baik dari segi revenue maupun dilihat dari beberapa award yang didapat. Tapi kebanyakan orang agak kurang suka soal reliability-nya, mirip2 Diablo 3. Harganya yang $59-$79 memang agak menguras kantong, jadi nabung dulu sampe bulan depan. Game ini adalah cikal bakal Bupati terbaik se-Indonesia. :))

Path
Sudah beberapa hari terakhir sibuk di Path karena lebih "personal" daripada Facebook atau another social network. Termasuk soal filosofinya yang "mayoritas kita hanya bisa akrab pada tak lebih 150 orang teman sekali waktu". Ditambah soal tracker waktu tidur dan bangun yang "memaksa" kita ingat terus untuk pakai ini apps. Boleh lah kasih 5 bintang.

Vivan
Akhirnya beli "power bank" juga walaupun dulu sempet skeptis sama orang-orang yang beli. Ditambah lagi temen ada yang jual. Ya sudahlah buat jaga-jaga dan persiapan di jalan kalau nggak nemu colokan.

Bajakan
Sebagai aksi anti pembajakan, akhirnya beli Finding Forrester dari iTunes. Ini film sungguh menginspirasi untuk menulis lebih banyak. The first key to writing is to write, not to think. Untuk sementara menahan hasrat dulu untuk beli lagu, takut kalap dan habis uang banyak. Untuk beli apps saja sudah habis 30ribu (eh, walau kelihatannya kecil yang penting duit juga). Padahal sebenarnya banyak yang ingin sekali (baca: nafsu) dibeli. Steve Jobs benar-benar merevolusi industri musik dengan iTunes, karena dengan begitu orang bisa beli lagu ketengan, dengan mudah!

Bayangkan saja satu lagu bisa seharga Rp 7ribu, itu kurang lebih harga satu nasi bungkus. Ini berarti dua hal. Dari sisi musisi (sisi musisi, lucu juga nyebutnya), mereka nggak jualan sembarangan dengan memasukkan lagu-lagu asal bikin ke dalam album, dan membungkusnya dengan harga mahal. Sedangkan kalau dari sisi penikmat musik, mereka akan benar-benar memilah mana lagu yang bagus dan yang tidak. Fair enough.

Kalau untuk film, kisarannya untuk standard definition adalah Rp 69ribu, dan kalau sewa sebulan cuma Rp 19ribu. Lumayan murah daripada ke bioskop kan? Lain waktu mungkin kita akan bicara panjang lebar soal bajakan, plus tips-tips lepas dari bajakan. Masak nggak malu pake gadget harga 6 juta perak tapi beli apps or lagu harga Rp 10ribu aja nggak kuat.


Original post : Log

No comments:

Post a Comment