Sunday, 27 January 2013

May I Check Your ID, Sir?

Di keluarga besar, darah paranoid itu mengalir kental. Kalau diurut dari Nenek, Ibu, dan kemudian saya, kekentalannya memang berkurang. Tapi tetap nyata. Salah satu contohnya saya punya kebiasaan menghapus histori di inbox HP (sekarang ditambah Line dan WhatsApp) walau tidak reguler.


Kenapa?


Kita mundur sedikit ke masa kuliah. Waktu itu saya dan Yosep sedang nonton di bioskop. Ditengah – tengah film, Yosep menerima sms dari dosen X, isinya dosen ybs meminta diisiin pulsa untuk nomor lain. Urgent. Tanpa kecurigaan sedikitpun, selesai nonton kami mampir di konter pulsa. Top up pulsa 50rb sukses.


Besok atau lusanya saya ketemu Yosep di kampus. Dengan muka kusut dan tetap jelek dia cerita kalau henpon dosen X (yang meminta diisiin pulsa) hilang. Selain Yosep, ada beberapa mahasiswa lain yang jadi korban. Si pencuri mengirim sms minta pulsa ke mahasiswa “lugu” macam Yosep. Bahasa dan cara ber-sms dibuat menyerupai si dosen X sehingga tak ada yang curiga.


Sekarang jelas bukan, dari mana kebiasaan itu berasal. Saya takut karena keteledoran saya sendiri, orang lain menjadi korban. Ini juga alasan mengapa saya menulis nama lengkap di Contact, bukan nama panggilan akrab. Ketakutan yang berlebihan, tapi saya bisa apa selain tindakan preventif (cieee…) kalau – kalau henpon saya dicuri #ketokmeja.


Kemaren abang saya nge-wassap minta ditransferin duit ke temannya. Dia lagi dikebon jadi agak sulit, padahal temannya lagi butuh. Ini pasti alesan doang biar bisa wassapan sama saya, ahay.


Darah paranoid saya menggelegak. Ini pola yang sama dengan kasus Yosep. Minta dikirim ke nomor atau orang lain. Sambil membuka iBank dan mencari – cari token, saya melakukan investigasi dan verifikasi identitas. Seperti adegan di film – film espionage, dua agen rahasia bertukar kata sandi yang hanya diketahui oleh mereka berdua.


Kata sandi klop, transaksi dilanjutkan.


Tiga jam kemudian, si abang kembali wassap saya (ah.. suka betul dia ngewassap saya). Dia sudah transfer balik duit ke rekening saya. Bagian ini agak mengecewakan. Saya tadinya berharap dia tak usah bayar saja duit itu. Dengan bunga 2% sebulan, 24% setahun, saya mau dia tak sanggup bayar tagihan. Kemudian saya mengambil posisi Datok Maringgih, suruh dia bayar dengan menjadi istri, eh suami saya mwahahahaha.


Ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Kita tunggu si abang berkebon dan minta transferan duit di kesempatan berikutnya. Saya harus benar – benar menandai ini. Ketika bukti transfer dikirimkan, bagian nomor rekening pengirim harus di sensor. Ini supaya si abang bingung dan tak tau kemana harus bayar. Evil plan saya bisa berjalan mulus.


Pesan moral:



  1. ID verification is a must
  2. Akhirnya saya punya alasan untuk mendukung project masking nomor rekening pengirim.



Filed under: Catatan

Original post : May I Check Your ID, Sir?

No comments:

Post a Comment